Senin, 25 Mei 2009

PENGRAJIN REBANA DI KALIWADAS BUMIAYU - BREBES JAWA TENGAH



Saingan dan Modal: Masalah Pengrajin Rebana
Oleh : Redaksi-kabarindonesia





Rebana adalah alat musik tradisional yang banyak dipakai untuk musik irama padang pasir. Pada musik gambus, kasidah dan hadroh adalah jenis kesenian yang sering menggunakan rebana. Di Desa Kaliwadas, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, ribuan rebana dihasilkan dan dijual ke pasar domestik dan internasional. Ribuan Rebana

Di Desa Kaliwadas dihasilkan ribuan rebana yang dijual ke berbagai daerah, termasuk ke luar negeri. Hampir seluruh warganya membuat rebana. Jumlahnya mencapai 400an rumah usaha yang mempekerjakan empat hingga lima karyawan. Masruri salah satu pengusaha kecil pembuat rebana.Masruri: "Ini unggul, produksi paling banyak, kalau mutunya kurang tahu. Kan ada lagi yang bikin lebih bagus. Kalau di sini mutunya ya mungkin sedang. Kalau produksi paling banyak, hampir satu desa kan bikin semua kan setiap rumah"

Desa ini terletak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Di sini, berjajar rumah penduduk yang memajang rebana di depan rumah. Sakim, kepala Dusun Kaliwadas mengatakan, dari tahun ke tahun, produksi rebana di Kailwadas terus meningkat.

Tidak rumit
Sakim: "Tahun ke tahun ya dari saya, ingat saya tahun 50 sampai sekarang itu ya maju. Jadi umpamanya kan ada kadang kalau dari KKNlah, nanti kalau itu pohon itulah habis, ya kan?

Sampai sekarang ya ditebangi macam apa ada saja pohon-pohon, sudah 180 orang yang bikin robana, maju sekali. Jumlahnya 180 orang yang itu kecil-kecil tapi cuman khusus di daerah-daerah Kaliwadas. Dibikin daerah lainnya gak maju. Bikin ke Tasik membawa tukang bubutnya ya gak jalan. Ke Sumatra, kan banyak pohon-pohon ya. Gak jalan, yang saya pribumi asli Kaliwadas yang tahu gitu dari jaman dulunya jadi itu maju saja"Membuat rebana sebenarnya tidak rumit. Bingkainya dibuat dari papan kayu. Papan itu lantas dibentuk dengan kampak.

Bahan baku bingkai terbagus terbuat dari kayu sawo, kayu sana keling dan kayu laban. Namun yang paling banyak dipakai saat ini adalah kayu mangga dan suyudan karena gampang didapat.

Tidak sembarang orang
Meski tak rumit, tak sembarang orang bisa membuat bingkai rebana. Nah, kalau sudah ahli, dalam sehari seorang pekerja bisa menghasilkan 80 bingkai rebana.Prosesnya seperti yang dijelaskan Nursidik, pengrajin rebana, " ...Itu dibakar, terus diampelas gitu. Tujuannya ben halus, ilangin yang kasar. Dibakar dulu terus diampelas, terus didasari pakai bensin. Tujuannya nutup pori-pori, memperkuat cat, yang pakai sirlak kan pakai bensin dulu, baru pakai kuas. Adanya sirlak itu spirtus, sirlak dicampur nah itu timpahkan baru itu pan jadi"
Papan kayu yang sudah halus itu lantas dibubut menjadi lingkaran.Nur Sidik: "Ya langsung dibubut itu mah, itu yang dilubangi tengahnya jadi tiga. Satu bahan itu jadi tiga, pertama ukuran 33, kedua ukuran 25, ketiga ukuran 17. Tiga macem itu satu jam, yang satu bahan itu satu jam. Itu pake mesin, pakai listrik waktu dulu kan pake bambu yang begini ya lebih mudah. Dulu pakai kaki meganginya pakai kaki"

Kulit kambing
Setelah bingkai rampung, kulit pun dipasang menggunakan alat khusus. Kata Masruri, kulit terbaik untuk rebana adalah kulit kambing yang telah dikeringkan.Masruri: "Ini yang dipakai kulit kambing, kalau yang lain dari itu ga dipakai, gak bisa masalahnya. Kalau kulit kerbau hanya buat beduk saja. Itu udah jadi kayu bulat. Itu langsung dipasang kulit. Nah sudah kulit kering, baru diplitur kayunya supaya mengkilat. Nah itu baru dicat kulitnya, supaya yang ada itu gambar itu disablon. Entar setelah itu baru dipasang rumbai-rumbai. Kalau spontan langsung gak bakalan jadi, meleleh gitu cetnya. Jadi ya antara setengah hari tapi kan bikinnya sekaligus banyak. Kita nunggu yang lain biar kering yang lain bikin"
Kualitas suara rebana, kata Masruri, sangat ditentukan oleh proses pemasangan kulit. Masruri: "Direndam aja dua hari, baru dikerok. Ya minimal empat harilah, jadi kulitnya bersih. Ini ngukur musiknya tinggal kitanya. Kalau mantengnya lebih kenceng, suaranya pasti kenceng. Tapi kalau pingin bas, supaya bunyinya dung, dung, dung, kita mantengnya ga terlalu kenceng, sedengan aja gitu"

Dipermudah listrik
Sejak listrik masuk Desa Kaliwadas tahun 1980an, proses pembuatan rebana sedikit berubah. Kalau semula digarap satu orang, kini pembuatan rebana dipisah-pisah per bagian.Masruri: "Ini ya ada orang kerja yang lain. Yang ngerok kulit sendiri. Yang masang kulit sendiri, yang mangkis sendiri. Ada dari mulai kayu buletin, sampai dibelah-belah, sampai di potong-potong, sampai di bunderin, dibubut. Jadi isinya tiga. Kedua selo yang paling lebar itu setelan, genjring, terbang bahasa Jawanya"

Sejak tahun 50-an
Bagaimana asal mula industri rebana di Desa Kaliwadas? Menurut Kepala Dusun Krajan Lor, Sakim, kerajinan pembuatan rebana mulai berkembang 50-an tahun silam.Sakim: "Orang sini, orang tua sini itu pertama ada orang Jatilawang-Ajibarang, pertama-tamanya itu. Kita ingatnya dadi bikin rebana itu di Jatilawang, daerah Ajibarang. Ada bubutan iya, memang, ya di bawah tahun 50-an. Ya pada waktu itu baru beberapa, dulu tentara Banyuangi, besok Kaliwadas akan diberi kesenangan. Khususnya genjring sini, ah masa pak? Coba aja besok, memang betul"
Meski Kaliwadas bukan satu-satunya daerah penghasil rebana, produksi rebana di sini terhitung paling banyak. Nurohman, salah satu pengusaha rebana di Kaliwadas bisa memproduksi dan memasarkan lebih dari dua ribu rebana setiap bulan ke berbagai daerah di Indonesia.

Nurohman: "Saya gak pernah ngitung, cuman kira-kira itu. Kira-kira ya sekitar 150, sekitar 200 lebihlah. Itu masih sebatas luar Jawa saja, misalnya mungkin 75% daerah Sumatra, mulai dari Lampung, Palembang, Bengkulu, Sumatra Barat, Riau, Medan, ada juga mungkin oleh yang dikirim dari Medan tapi saya sendiri ga langsung ke Aceh"

Panen Ramadhan
Kata Masruri, pesanan biasanya membludak menjelang hari raya Idul Fitri. "Kalau bulan ramadan malah saya bikin banyak. Masalah pesanan kita kan nyari ke mana-mana, ada pesan jadi kita kontinyu, ini ga pesen sono ada pesen," jelasnyaUmumnya para pengrajin rebana memasarkannya lewat pengusaha seperti Nurohman. Tapi Masruri memilih untuk memasarkan rebananya secara mandiri.

Masruri: "Kalau saya Tasik, langsung ke pasaran ya Tasik, Garut, Bandung, Jakarta. Kadang juga ke Sumatra. Ada yang ngedrop saya ke Sumatra. Ada yang bawa ya dia itu rumahnya belakang, satu truk, ya hampir tiga minggu sekali, dalam jumlah minimal ya 150 set. Itu kaya set-setan, kalau setelan masih banyak yang lain belum drumbandnya"

Tenar
Rebana buatan Kaliwadas pun sudah tenar sampai ke negeri tetangga. Malaysia dan Brunei Darussalam tercatat sebagai pembeli rebana. Jumlahnya memang belum banyak, mengingat tingkat persaingan kualitas sangat ketat.Pengusaha rebana, Nurohman, bercerita, rebana yang berhasil menembus pasar luar negeri hanya sekitar 5% dari total produksi.

Nurohman: "Memang sebetulnya permintaan banyak ke Malaysia. Cuman harganya kalau kalau dibanding dengan pemasaran di Indonesia sendiri itu hampir dua kali harga Indonesia ya. Cuman kulaitas di sana, itu di sanakan semuanya harus serba baguslah. Seperti kayu tanpa dempul, kulit harus betul-betul yang nomer satu, sedang kaya orang-orang perajin rebana itukan asal-asalan jadi. Kalau misalnya 1000 biji disortir cuman masuk 10 biji atau 20 biji. Itukan mungkin yang lainnya jelek semua ya. Kalau dipasarkan di Sumatra itu juga agak berat, soalnya ga ada barang yang bagusnya"

Pentingkan kuantitas
Pembuatan rebana di Kaliwadas kelihatannya memang lebih memperhitungkan jumlah ketimbang mutu. Tak heran, harga rebana Kaliwadas sangat murah, baik yang ukuran besar atau kecil.Nurohman: "Itu macam-macam. Ada yang per set, per biji juga ada. Ada yang per kodi juga ada, itu tergantung. Kalau luar Jawa rata-rata itu perkodi ya, itu ka nada yang XL, XL itu 35 senti ukurannya.

Terus L 31 senti, M 27 senti terus S 22, terus yang paling kecil namanya B4, itu namanya rebana TK. Itu paling 17-18cm. Tapi itukan dari ukuran terkecil-terbesar. Orang toko jualannya per set loh. 1 set rebana isi 6 - isi 8 itu jadi untuk bass paling besar ukuran XL kadang 2 biji, ke toko-toko kodian. Tiap daerah itu kan lain mas. Seperti Purwokerto kan empat biji, kadang lima biji, seperti Palembang itu 1 grup sampai 12 ada. Per set paling kecil di sini saya jual sekitar 75 ribu yang isi enam tapi ada yang isi enam sampai 200 juga ada. Untuk TK misalnya, B4nya sekian, terus ukuran nya sekian. Ukuran Mnya sekian, itu kan lebih murah paling sekitar 75 ribu"

Pesaing
Karena itulah, rebana Kaliwadas terancam dengan kehadiran rebana lain dari Gresik, Lamongan, Jepara dan Kudus. Meski jumlah produksi lebih kecil, kualitas rebana dari sana dianggap lebih baik.

Nurohman: "Dan meskipun ada seperti Gresik, Lamongan. Tapi kan jauh prosentasenya mungkin di sini 100 di sana paling dua biji. Misalnya, di sana pesen satu set saja bisa satu bulan. Itu lebih bagus sana memang, di sana khusus pesanan-pesanan tertentu yang sudah main rebananya itu udah pintar, kayunya juga lain. Di sana saya denger satu set sampai satu juta, di sini paling 200-300 sudah dapet. Dari bahan, pekerjaaan mulai pemasangan kulit juga lain, finishingnya juga lain kalau dibanding dengan daerah Kudus, Jepara maupun Lamogan, Gresik itu, ya jelas kualitasnya bagus di sana"

Mutu yang lebih baik
Alasan mutu yang lebih baik ini juga disampaikan Ketua Ikatan Seni Hadroh Banyumas, Abdul Hakim Chariri. Dia bersusah payah beli rebana buatan Kudus. Padahal Kaliwadas lebih dekat.Abdul Hakim Chariri: "Untuk alat ataupun alat musik kita variatif ya.

Maksudnya kita melihat dana dan kondisi karena kita mengenal produksi-produksi alat musik yang secara mutu dsb berkait, bersaing seperti produk yang ada di Bumiayu, Kaliwadas kita pada awalnya menggunakan disitu karena lebih murah. Tapi lama kelamaan kita butuh yang mutunya lebih tinggi. Kita menggunakan produk yang dari Jepara, dari Kudus dengan harga yang tiga kali lipat. Tapi dari sisi kualitas jauh, karena mungkin kambing yang digunakan kambing Arab atau Australia. Kita ga tahu ritualnya, yang jelas kualitasnya luar biasa. Terus kencring atau kencring juga lain bunyinya. Dari apa namanya dari kayunya mungkin kayu juga dari alas roban atau dari mana"

Kendala serius
Ini bisa jadi kendala serius bagi perkembangan industri rebana di Kaliwadas. Apalagi kendalanya pun tak sebatas itu. Pengrajin rebana seperti Masruri mengaku sangat kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya. Karena itu ia lebih memilih menggenjot jumlah produksi dan tak terlalu memperhatikan kualitas.Masruri: "Ya pertama kita memang, ada dua, kita ada modal, baku lagi susah. Giliran banyak modal kurang gitu, jadi kayaknya begitulah, kita ada modal bahan susah" Modal usaha biasanya didapat dari Badan Kredit Desa lewat pemerintah desa setempat, juga dari pengusaha rebana seperti Nurohman.

Nurohman: "Ya sebagian membantulah, memang sekemampuan saya. Misalnya perajin sudah punya kayu tapi belum ada kulit. Saya belikan kulit. Perajin sudah punya kulit, kayunya masih kurang. Saya belikan kayu. Nanti stelah masuk barang, kan itung-itungan, langsung saya kasih sisanya itu"

Kekurangan modal
Sejauh ini, masyarakat Desa Kaliwadas masih menggantungkan penghasilan sehari-hari pada pembuatan rebana. Tapi masalah kurang modal harus jadi perhatian serius. Kepala Dusun Kaliwadas Sakim mengatakan, pemerintah harus lebih memperhatikan industri rebana desanya. Baik dari segi modal mau pun pembinaan usaha. Selama ini, tak ada tindak lanjut serius dari pemerintah setempat untuk mengembangkan industri rebana di Kaliwadas.

Sakim: "Bentuknya cuma wawancara, jadi nanti bisa ditampung. Apa istilahnya bagaimana, apa dipinjami modal, apa gimana kan begitu. Nanti bisa atau diadakan koperasi rebana, tapi sampai sekarang belum ada. Umpamanya sektor ke tempat saya dibayar jadi orang-orang itu kan mesti kumpul jadi satu. Nanti kita yang menjual kebanyakan begitu. Itu maksudnya. Tapi kok sampai sekarang ya, ga ada apa - apa, belum jadi kalau di sini ya modal masing-masing"

Desa Kaliwadas sudah dikenal luas sebagai desa rebana. Tapi kalau kualitas tak diperhatikan serius, bisa jadi pembeli bakal meninggalkan rebana produksi Kaliwadas. Padahal ada ribuan jiwa yang menggantungkan hidup mereka dari pembuatan rebana.

Sumber: Radio Nederland Wereldomroep (RNW)

1 komentar:

  1. apakah kerajinan rebana ini dijual di kota Semarang ?. mohon informasi agen di SMg

    BalasHapus